Postingan

(Hujan) Ketika Menjelma Menjadi Sarana Bintang Lima

Air hujan jatuh bertalu-talu, memukul sedih agar mereda dengan dinginnya. Air hujan yang jatuh mengenai atap rumah berkumpul di satu sudut paling rendah, membuat turunnya lebih deras dari sudut yang lainnya. Anak-anak berdiri dibawahnya bak shower di rumah- rumah mewah, sambil berlagak mandi membersihkan diri dari ujung rambut hingga ujung kepala. Sambil tersenyum berebut antrean dengan teman-teman yang lain. Di sisi lain ada yang berenang di jalanan yang tergenang, di selokan yang penuh, bak kolam renang bintang lima. Jika dipikir-pikir hal itu menjijikkan, namun apalah jijik jika sudah tertutup rasa senang.  Mungkin juga tanpa sadar mereka berpikir apapun kotorannya, ini adalah hujan air, air yang membersihkan kita, untuk apa merasa kotor?. Walaupun begitu tidak heran jika beberapa saat setelah hujan- hujan-hujanan mereka sakit, namun saat sudah kembali sehat rasanya rasa sakit bukan apa-apa daripada menikmati hujan --mereka kembali lagi menikmati hujan setelahnya. Hahaha

Aku Tidak Pernah Sendirian

[PERIHAL TEMAN DAN MENJADI SENDIRIAN]
Sewaktu kecil aku tidak pernah punya banyak mainan, mungkin cuma boneka hasil dari drama menangis di pelataran toko. Namun aku punya teman-teman yang membawaku bermain bersamanya, dan akhirnya tau rasanya bermain berbagai macam mainan. 
Sampai beranjak remaja pun, kerap kali aku bisa makan atau pergi ke sebuah tempat karena acara sekolah ataupun diajak teman-teman.
Sewaktu kecil aku juga mengingat pernah berenang di selokan saat hujan, pernah bermain rumah-rumahan dari tanah, berlarian kesana kemari, kadangkala tak tau waktu.
Beranjak remaja ada teman yang rela berdiri panas-panasan lima jam di bawah terik matahari, ada yang rela menampung aku sebelum dijemput bapak, ada yang rela ku kunjungi berjam-jam lamanya, ada yang mendengarkan keluh kesah hingga tengah malam, ada tempat dimana terkadang kita butuh dinasehati, ada tempat bertanya ketika semua rasanya sudah buntu, dan banyak hal lainnya yang rela dikorbankan satu sama lain tanpa mengharapkan bala…

Nenekku dan Masa Kanak-Kanak

Entah mengapa mengingat tentang kematian, hari ini aku mengingat sosok samar-samar itu. Nenekku, ya nenek yang kembali ke sisi Tuhan tujuh tahun yang lalu. Kukira sejak ia tiada, aku hanyalah cucu yang tak berkembang menjadi apapun di mata orang-orang. Dulu ketika aku berkunjung ke sana, gadis kecil itu mulai belajar bangun pagi-pagi, menyapu halaman, dan membeli tahu untuk sang nenek. Dia suka jalan-jalan pagi atau biasanya memakai sepeda dewasa milik pamannya tanpa mengucapkan kata pinjam. Pulang- pulang pedal sepedanya rusak dan ia begitu takut, untung tidak dimarahi. Namun sekarang, gadis kecil itu bertumbuh menjadi seorang remaja, namun hal-hal yang dilakukannya dulu seakan terkubur bersama jasad neneknya. Orangtuanya sering ngomel-ngomel soal kodratnya sebagai wanita, bersih-bersih rumah dan membantu orang tua untuk sekedar ke toko atau memasak. Tetangganya sering mencibir tentang ketidakbisaannya  dan orangtuanya malu. Seluruh dunia sangat memakinya. Padahal ia tidak tau, kenap…

KompasHati: Pertama

Gambar
Motor Scoopy hitam itu berhenti tepat di depan rumahku. Aku turun berpegangan pada pundaknya. Pundak yang selama tiga tahun ini selalu ada untuk ku jadikan sandaran. Andai hatinya juga untukku, pasti rasanya akan sangat membahagiakan." Mau mampir dulu kan Ka? Aku buatkan wedang uwuh deh, ayo!!" Kataku sambil menyerahkan helm ke tangannya"Nggak deh Kil, gue anterin sampe sini aja ya, satu jam lagi gue ada janji mau ke rumah Gista soalnya."" Tapi ini mau hujan loh Ka, nanti kehujanan kamu" khawatirku" Gapapa, gue juga mau pulang dulu kalik, gapapalah hujan nanti juga akhir-akhirnya mandi juga kan?" Katanya sambil tersenyum"Iya iya tuan Raka, yaudah gue pinjamkan jas hujan bokap ya??"" Hmm gausah deh Kil. Lo harus tau, jangankan hujan, badai pun akan gue terjang demi Gista"" Iiiddiiihhhh apaan, jijik banget tau Ka!! Yaudah sana silahkan hujannya diterjang, awas kalau Lo sakit ogah gue njenguk, mati ya mati sana. Assalamuala…

#Ranakala : Langkah Satu

Langkah demi langkah Derana pijak menuju rumah teman sekelasnya yang tidak pernah ia kunjungi itu, ini pertama kalinya ia kesana.       Ia mengumpulkan keberanian, " Huft... kamu harus berani Ran".        Ia terpaksa malam-malam harus mengayuh sepedanya kesana karena tidak punya buku paket IPA, sialnya besok ulangan harian, ia tidak mencatat apapun dan tidak paham penjelasan gurunya waktu itu.        Tok-tok-tok, " Assalamualaikum, Niscalaaa" ia mengucapkan kalimat itu beberapa kali, lalu muncul ibu-ibu dengan tampilan rumahan.        " Waalaikumsalam, eh Rana, ada apa?"ucapnya dengan ekspresi yang tidak berani kulihat        " Ini Tante, Rana mau pinjam buku IPA Niscala, niscalanya ada?"        " Kebetulan tidak ada, sedang Les di rumahnya Bu Riani , kamu mau nunggu atau nyusul kesana... Eh ngomong-ngomong masuk dulu yuk"        " Nggak deh Tan, aku nyusul aja. Aku pamit yaa Tan soalnya udah malam juga, terimakasih assalamuala…

Duka dari Kakek Tua yang Pernah Dianggap Gila

Hari ini ada berita duka dari rumah sepetak di samping masjid. Seorang kakek tua telah berpulang, pulang ke rumah terakhir semua umat manusia, rumah keabadian
Kakek itu dulu sering mengendarai sepeda onta, atau menaiki sepeda motor berisik untuk mencari makanan peliharaannya. Saat itu sepeda onta termasuk lumayan langka, sehingga sepeda onta seperti telah menjadi ciri khas untuk beliau. 
Kakek itu dulu juga sering pujian di masjid, ciri khasnya adalah pujian Qurota A'yun kata orang-orang itu agar membuat anaknya menjadi anak berbakti dan sukses. Buktinya anak-anaknya sekarang menjadi anak yang berbakti dan sukses.
Kakek itu dulu juga sering ditakuti, karena sebagian orang menganggapnya agak gila. Mungkin karena beban atau masalah hidupnya, entah bagaimana. Budheku pernah bercerita jika kakek itu pernah mengetok dan meneriaki rumahnya ditengah malam. Beliau juga sering marah-marah tidak jelas kenapa.
Namun beberapa bulan ini, beliau sakit, hanya bisa tidur di kasur rumah kecilnya. La…